21 November 2011

Tanaman Pencegah Polusi

Ada beberapa tumbuhan atau tanaman yang dapat menyerap lebih polusi udara maupun polusi jiwa, diantaranya:

  • Pohon Kelengkeng
    • Siapapun tahu betapa enaknya rasa buah kelengkeng. Namun tahukah Anda kalau pohon kelengkeng mampu meredam polusi suara. Itu sebabnya pada pabrik-pabrik yang menggunakan genset, ada baiknya menanam pohon ini di dekat genset tersebut.


    • Pohon Bungur dan Mahoni
      • Dikenal mampu menyerap polutan udara seperti timbal. Maka kedua pohon ini sebaiknya ditanam untuk penghijauan di kota-kota besar, dekat jalan protokol yang padat lalu lintasnya. Bukan rahasia lagi kalau kendaraan bermotor menjadi penyumbang timbal terbesar di udara.
        Sebaliknya, pohon seperti akasia sebaiknya jangan dijadikan pohon jalur hijau. Mengapa? karena akasia menjadi salah satu pencetus asma. Begitu juga pohon palem yang indah bentuknya, tak begitu besar manfaatnya.



    • Pohon Dadap Merah
      • Pohon ini baik ditanam di halaman terbuka, selain dapat menyerap Polusi Udara dan juga bisa mengundang datangnya para burung hinggap di pohon tersebut. Soalnya berbagai jenis burung suka sekali menyantap buah si dadap merah ini.
     

    • Bunga Warna Warni
      • Tanaman yang menyegarkan mata seperti bunga berwarna-warni mampu menjernihkan pikiran kita, sehingga baik ditanam di rumah sakit agar bisa mempercepat kesembuhan pasien. Tanaman ini jelas melawan polusi jiwa.



    • Lumut
      • Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.


      • Tanaman Sirih Belanda
        • Tanaman ini selain akan menyerap polutan di sekitar anda dalam jumlah banyak, juga berfungsi sebagai tanaman hias di rumah dan menjadi kawasan rumah yang bebas dari polusi dan udara akan bersih di sekitar rumah anda. 

        • Pohon Trembesi 
        Pohon Trembesi ini sangat mudah dikenal dari karakteristik dahan pohonnya yang akan membentuk seperti bentuk payung. Dan pohon trembesi ini akan tumbuh melebar melebihi ketinggian pohonnya (gak kebayang ademnya kalau ditanam di tengah lapangan Simpang Lima). 
          Dinegara asalnya pohon ini dipergunakan sebagai pohon penyejuk di perkebunan maupun taman. selain itu pohon trembesi juga mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Pohon Trembesi mampu menyerap 28,5 Ton Karbondioksida setiap tahunnya. 

          Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya. Mungkin karena kemampuan menyerap CO2 inilah maka pemerintah meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan trembesi sebagai pohon utama untuk ditanam.
          • Kembang Sepatu
            • Mampu menyerap nitrogen sehingga membuat paru-paru kita jadi lega. Namun jangan sekali-sekali menanam bunga kembang sepatu di dekat ruang Radiografi. Tanaman ini berfungsi meneruskan radiasi sehingga berbahaya bagi orang di sekitar tempat radiografi tersebut.

            • Sanseveria  
              • Sansevieria mampu menyerap 107 jenis racun, termasuk polusi udara, asap rokok (nikotin), hingga radisi nuklir, sehingga cocok dijadikan penyegar.

            Semoga Info ini Bermamfaat.

            20 November 2011

            Mencintai Satwa dan Bunga Identitas Bangsa

            Goggle
            Ketika mendengar kata ‘Kanguru’ orang langsung akan teringat Australia. Ketika mendengar kata ’Tulip’ orang langsung terbayang Belanda. Dalam kesempatan berbeda, kata ’Sakura’ ingatan orang langsung ke Jepang. Onta didekatkan pada Arab Saudi. Ketika disebutkan ’Gajah putih’, pasti orang akan terbayang Thailand. 

            Lebih dari sekadar khasanah aset kehidupan di jagad raya, eksistensi flora dan fauna ternyata bisa menjadi ’diplomat’ yang handal dalam memperkenalkan sebuah negara. Lalu?

            Indonesia negeri 13.677 pulau beriklim tropis memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa ditinjau dari ragam jenisnya. Sebagai negeri agraris dengan hutan menghijau, menjadi surganya habitat hewan maupun tumbuhan yang tiap daerah satu dengan yang lain bisa berbeda jenisnya. Seberapa banyakkah yang tahu, nama satwa atau bunga yang ketika disebutkan orang langsung mengingat negara kita?

            Identitas Ternyata belum banyak yang mengetahui atau lupa, sebenarnya kita telah lama memiliki maskot satwa dan bunga yang telah ditetapkan pemerintah sebagai identitas bangsa.

            Sekadar mengingatkan kembali, pada 1991 pemerintah telah mengumumkan secara resmi mengenai satwa dan bunga nasional. Pengukuhan nama-nama satwa dan bunga kebanggaan nasional itu diumumkan langsung oleh presiden Soeharto yang berkuasa waktu itu dalam sebuah acara khusus.

            Ada tiga klasifikasi satwa dan bunga yang ditetapkan. Untuk satwa nasional telah ditetapkan berdasarkan klasifikasi: satwa bangsa, satwa pesona dan satwa langka. Satwa bangsa adalah komodo, satwa pesona ikan arwana dan satwa langka elang jawa.

            Sementara tiga klasifikasi bunga nasional yang telah ditetapkan adalah: puspa bangsa, puspa pesona dan puspa langka. Puspa bangsa pilihannya bunga melati, puspa pesona anggrek bulan dan puspa langka raflesia raksasa.

            Menjadikan satwa dan bunga sebagai salah satu unsur identitas bangsa, memang tidak termaktup dalam konsitusi negara sebagaimana identitas bangsa yang prinsip seperti halnya bendera, bahasa, lambang negara dan lainnya. Eksistensi satwa dan puspa nasional lebih didasari oleh kebutuhan melengkapi identitas bangsa dari dimensi khasanah flora dan fauna sebagai aset nasional.

            Sebagaimana diilustrasikan di awal tulisan ini, eksistensi flora dan fauna bisa menjadi ikon sebuah negara. Mengapa?

            Satwa dan tumbuhan bisa bermakna khusus menurut kesejarahannya, tradisinya dan keistimewaannya di negara tertentu.

            Contohnya kanguru, satwa itu menjadi ikon Australia karena memang negara benua itu manjadi habitat kangkuru yang istimewa sebagai hewan satu-satunya di dunia dengan kantong diperutnya. Tulip mungkin bukan bunga langka di dunia sebagaimana halnya, raflesia raksasa. Namun Belanda berhasil menempatkan bunga itu sebagai komoditas primadona.

            Selain upaya melengkapi unsur identitas bangsa, eksistensi satwa dan flora dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mengembangkan sarana diplomasi, sarana komoditi dan sarana apresiasi dalam rangka mewujudkan cinta tanah air.

            Sebagai bangsa, kita bangga memiliki khasanah fauna yang beragam. Komodo, elang jawa dan ikan arwana diharapkan bisa menjadi sarana ’diplomasi’ yang baik memperkenalkan negeri ini kepada masyarakat dunia, baik melalui ekspor ikan arwana ataupun wisata di Pulau Komodo.

            Masyarakat kita juga memiliki apresiasi tersendiri terhadap bunga. Bunga melati yang dijuluki puspa bangsa, telah banyak dikenal masyarakat kita tidak hanya karena keharumannya, namun di kalangan masyarakat tertentu dipakai sebagai perlengkapan upacara-upacara tradisi atau upacara sakral seperti perkawinan, upacara kematian dan lainnya.

            Warna putih melati juga disimbolkan masyarakat sebagai kesucian atau pengabdian suci seorang pahlawan. Dalam ensiklopedi Amaricana mencatat bunga nasional dari sedikitnya 68 negara, di sana disebutkan melati bunga khas dari negara Indonesia.

            Anggrek bulan yang digelari puspa pesona, banyak dibudidayakan masyarakat karena nilai ekonominya cukup tinggi sebagai komoditas tanaman hias. Karena keanggunannya, bunga ini juga dipakai sebagai hiasan dalam acara resepsi resmi kenegaraan atau acara lainnya. Lalu, raflesia raksasa sebagai puspa langka yang unik banyak dikagumi para pecinta tanaman. 

            Bunga ini hanya tumbuh di Indonesia, itu pun di propinsi Bengkulu. Keunikan lain, hanya mekar pada pulan Januari, Nopember dan Desember dengan garis tengah antara 70-90 centimeter. Karena ukurannya yang istimewa itu, menempatkan raflesia sebagai bunga yang terbesar di dunia. Sejarah mencatat, bunga ini pertama kali ditemukan pada 1818 di Kabupaten Rejang Lebong, Benmgkulu, oleh Raffles, penguasa dari Portugis pada masa penjajahan.

            Cinta Lingkungan Mengembangkan apresiasi masyarakat terhadap flora dan fauna kebanggaan nasional dapat mewujudkan rasa cinta tanah air dan lingkungan hidup dalam fungsi idealnya.

            Kesadaran masyarakat diketuk untuk turut melestarikan lingkungan dengan tidak mengganggu habitat hewan maupun tanaman langka yang dilindungi pemerintah.

            Kita sangat prihatin mendengar kabar, masih ada perburuan dan perdagangan satwa langka yang dilindungi pemerintah dengan berbagai motifnya. Begitu pula dengan pembukaan lahan di hutan lindung sebagai habitat flora dan fauna kebanggaan kita.

            Melestarikan lingkungan bisa pula dilakukan dengan mengembangkan apresiasi yang diarahkan kepada budi daya. Budidaya tanaman ataupun hewan merupakan bentuk pengembangan apresiasi dalam fungsi ekonomi.

            Budi daya ikan arwana, bunga melati atau anggrek bulan, selain melestarikan lingkungan juga diharapkan bisa menjadi komoditas andalan yang tidak hanya memungkinkan menjadi sarana memperkenalkan negara kepada masyarakat dunia sebagaimana bunga tulip dari Belanda, namun sudah pasti menyumbang pundi devisa negara.

            Namun hal yang terpenting, mengembangkan apresiasi keindahan flora dan fauna di tengah masyarakat harus selaras dengan upaya membina lingkungan hidup yang bersih, sehat dan indah. | Oleh : Musriyenti.

            30 Oktober 2011

            Gotong Royong Bangkitkan Kesadaran Peduli Lingkungan

            Oleh : Muhammad Gunari
            Ketika musim hujan datang dan banjir menggenangi lingkungan, warga pun kelimpungan. Banyak reaksi yang muncul dari masyarakat. Ada yang mengumpat, pejabat kota tak becus, parit tumpat atau konstruksi drainase yang tidak beres.
            Google

            Pendek kata, kalau saat itu ada kambing warna hitam lewat, walau tidak ada relevansinya, pasti dituding sebagai biang keladi kebanjiran. Dari semua tudingan, tak satu pun menuding diri sendiri atau kesalahan yang datang dari lingkungan sendiri. Bagaimana perilaku mereka sehari-hari membuang sampah ke dalam parit atau saat membuat bangunan tempat usaha dengan cara menyemen permukaan parit, tidak pernah terlintas dalam pikiran.

            Kebanyakan hanya berpikir, banjir akibat drainase tumpat dan pemerintah kota tutup mata. Jarang sekali yang berpikir, ketika banjir menghampiri erat kaitannya dengan perilaku masyarakat sehari-hari. Itu ketika musim hujan. Apalagi ketika musim kemarau, pastilah lupa akan datang musim hujan kemudian banjir.

            Mengetuk Kesadaran
            Dalam konteks mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat kita, termasuk masalah lingkungan, gotong royong merupakan tradisi yang masih dijadikan solusi handal. Organisasi sosial, lingkungan departemen, warga kelurahan, sering mengadakan gotong-royong. Banyak yang mereka kerjakan mulai membangun jalan, membersihkan parit atau pengerjaaan proyek kecil lainnya menyangkut kepentingan bersama.

            Gotong-royong kebersihan lingkungan, selain mencerminkan kepribadian bangsa yang menjunjung kebersamaan dan persatuan, merupakan cara lain mengetuk kesadaran peduli lingkungan. Mengapa?

            Di dalam gotong-royong terkandung beberapa nilai positif yang berkembang dalam kepribadian. Terutama menyangkut kehidupan bersama di tengah masyarakat. Salah satunya sikap rela berkorban. Dalam gotong-royong masing-masing peserta rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi.

            Pengalaman (rela berkorban) itu menyadarkan peserta gotong royong merasa memiliki masalah sosial yang menjadi bagian dari tanggungjawab diri sendiri. Mereka juga merasa berkepentingan menjaga kebersihan lingkungan yang mereka kerjakan bersama-sama karena menjadi bagian dari proses pengerjaannya.

            Dengan demikian diharapkan kepedulian individu menjaga lingkungan semakin tinggi. Bila setiap individu peduli, otomatis menciptakan komunitas masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.

            Di dalam bergotong-royong, bukan semangat individu yang bekerja. Tapi individu yang telah bersatu dengan suasana kebersamaan yang kental, sehingga timbullah suasana kesemarakan yang akrab penuh gembira tanpa paksaan dalam mewujudkan kepedulian terhadap pemeliharan lingkungan.

            Masalah Bersama
            Masalah lingkungan merupakan masalah yang dekat kepentingan pribadi, keluarga dan kehidupan masyarakat. Karena itulah dibutuhkan kepedulian individu dan kolektif.

            Contoh yang sederhana dan sering kita temui di sekitar kita adalah masalah sampah. Sampah yang berserekan di sembarang tempat berkaitan dengan masalah perilaku pribadi yang kurang memiliki rasa kepedulian untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

            Sampah yang tidak dikelola semestinya tidak hanya menggangu pemandangan atau kenyamanan warga secara perorangan karena baunya yang tak sedap, namun berpotensi timbul masalah yang lebih besar lagi semacam masalah banjir.

            Banjir yang disusul beragam penyakit karena lingkungan yang tidak bersih menjadi ancaman masalah sosial yang sangat serius. Demikian pula dengan masalah lingkungan yang lain, seperti pencemaran limbah, polusi udara atau yang sekarang sedang mencemaskan, pemanasan global.

            Mengatasi masalah lingkungan yang besar ini ternyata sebagian tergantung kepada kepedulian individu. Karena kerusakan lingkungan dan sumber petaka lingkungan, sebagian besar berkaitan dengan sikap individu.

            Mengubah kebiasaan tidak peduli menjadi peduli lingkungan akan membantu mengurangi beban masalah lingkungan. Mulailah dengan kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, memiliki kegemaran menanam pohon dan mengurangi pemakaian barang-barang yang tidak ramah lingkungan.

            Masalah lingkungan adalah masalah bersama dalam satu lingkaran ekologi. Karena itulah perlu kesadaran pribadi yang akan menopang tanggungjawab kolektif terhadap masalah lingkungan. Melibatkan diri berotong royong mengatasi masalah lingkungan akan membangkitkan kesadaran, peran kita mengatasi masalah lingkungan sangat berarti.

            (Penulis, peminat masalah sosial, budaya, pariwisata dan lingkungan hidup)

            26 Oktober 2011

            Satu Pohon Satu Rumah, Mungkinkah?

            Analisa/said harahap
            Kita semua tahu bahwa penggundulan hutan di dunia ini berujung kepada peningkatan suhu global, menimbulkan bencana longsor, banjir ketika curah hujan tinggi dan kekeringan ketika curah hujan rendah. Semua ini menjadi persoalan serius umat manusia di dunia ini, termasuk buat masyarakat Indonesia. Mengapa dikatakan buat masyarakat Indonesia karea tingginya angka deforestasi (kerusakan hutan) di Indonesia. Indonesia negara yang sangat suka merusak hutan dan Indonesia pula yang selalu berteriak menyelamatkan hutan lewat Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Teriakannya lantang dan penuh slogan seperti gerakan "Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia" atau "One Billion Indonesian Trees for the World", slogan "Selamatkan Hutan untuk Anak Cucu", "Menanam Satu Pohon untuk Orang".

            Belum lagi Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP). Gerakan yang dimotori tujuh organisasi perempuan yakni Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (Sikib), Dharma Wanita Persatuan, Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB) dan Korps Wanita Indonesia (Kowani), Dharma Pertiwi, Bhayangkari, dan Tim Penggerak PKK dan berbagai slogan lainnya. Cukup banyak slogan sehingga penulis bingung.

            Belum lagi keinginan Kemenhut menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK)_sebanyak 26 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional hingga tahun 2020. Hebatnya lagi ingin meraih citra Indonesia di mata dunia sebagai negara penyelamat bumi.

            Mari kita (Anda) bertanya dimana program satu miliar pohon yang kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan itu. Menanam pohon bukan bisa hanya katanya, tetapi nyatanya mana. Sudah terlalu sering penulis mengikuti acara serimonial menanam sejuta pohon, berjuta pohon, hadir para pejabat negara dari pusat sampai daerah, merepotkan semua pihak, menghabiskan dana ratusan juta rupiah, ekspose di berbagai media. Fakta dan nyatanya dari acara serimonial menanam berjuta pohon itu tidak ada hasilnya. Mana pohonnya. Habis acara serimonial maka habislah cerita menanam pohon.

            Menanam jutaan pohon secara simbolis, hasilnya juga menjadi simbolis. Menyedihkan, memprihatikan akan tetapi itulah kenyataannya. Bila memang sudah ada penanaman berjuta-juta pohon maka sudah pasti kota Medan dan kota-kota lain di Indonesia tidak panas terik lagi. Hebatnya lagi pemerintah telah menyiapkan anggaran Tiga Triliun rupiah untuk penyediaan bibit. Dimana pohon-pohon dari bibit yang disediakan triliunan rupiah itu?

            Berpikir Global, Bertindak Lokal

            Letih, lelah, membosankan dan memprihatinkan dari slogan, retorika para pemimpin negeri ini jika bicara penghijauan, penanaman berjuta-juta pohon. Sementara penebangan berjuta-juta pohon terus terjadi. Diperkirakan setiap lima menit di Indonesia kehilangan hutan alam seluas lapangan sepakbola.

            Hal yang menyedihkan lagi, kita (Anda) selalu berpikir global dan bertindak global. Bagaimana kalau kita (Anda) berpikir global tetapi bertindak lokal. Lupakan bertindak global yakni melakukan acara serimonial dengan menanam berjuta pohon, lupakan tindakan untuk menanam berjuta pohon, lupakan slogan untuk seorang menanam sebuah pohon dalam setahun. Lupakan perempuan menanam, anak-anak menanam dengan slogan kanak-kanak menanam, dewasa memanen. Lupakan itu dan bertindak yang lokal atau yang sederhana saja.

            Bertindak yang sederhana atau lokal tetapi dengan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan menanam pohon sebab menanam pohon sangat penting karena satu pohon menurut penelitian bisa menyerap gas CO2 (karbondioksida) hingga 28 ton per tahun dan menampung air hingga 100 liter per tahun.

            Menanam pohon bagi manusia berarti manusia itu biasa menghirup udara (oksigen) secara gratis sebanyak 10 ton per tahun dan menggunakan air sekitar 10 liter per hari. Luar biasa karena manusia yang menanam pohon memberikan kehidupan bagi manusia di sekitarnya. Tidak salah bila dikatakan orang yang menanam pohon itu adalah orang mulia.

            Kita (Anda) kini di dunia ini sudah tak aman lagi, bumi harus diselamatkan. Alasannya baru cuaca yang tidak menentu, bumi yang semakin panas sampai mencapai 34 Celcius seperti kota Medan membuat semua warga menjerit.

            Penyebabnya semua kita (Anda) mengetahuinya bahwa kita (Anda) kekurangan pohon untuk menghasilkan udara segar, kendaraan semakin banyak memproduksi asap (Karbon). Hutan alam hilang sebab pohonnya habis ditumbang untuk industri kehutanan pada hal bila kita (Anda) bertindak sederhana atau lokal saja maka cukup menanam jutaan hektar lahan-lahan kosong yang ada di Indonesia. Sederhanakan! Namun, kita (Anda) tidak mau karena kita (Anda) mau cepat kaya, mau langsung senang.

            Satu Pohon Satu Keluarga

            Lagi, mari kita (Anda) berpikir lokal atau sederhana, tidak perlu satu orang menanam satu pohon. Susah itu. Bayangkan saja penduduk kota Medan ada lebih kurang dua juta jiwa. Bila ada pohon lebih kurang dua juta pohon maka luas kota Medan akan habis, mau dimana penduduk kota Medan ini bermukim atau tinggal. Susahkan dan tidak memungkinkan.

            Hal yang sederhana agar kota Medan sejuk, cukup menanam satu pohon untuk satu rumah, mungkinkah? Banyak juga yang mengatakan tidak mungkin dan bila saja setengahnya saja memungkinkan sudah luar biasa.

            Menanam berjuta-juta pohon di lahan kosong di luar kota Medan sampai kini tidak menjadi kenyataan. Kementerian Kehutanan sibuk beretorika terus ingin menghijaukan hutan di Indonesia. Ada hal yang sederhana yakni Pemerintah Indonesia lewat Kemenhut RI cukup melakukan moratorium untuk hutan alam Indonesia. Industri kehutanan sudah saatnya menanam lahan-lahan kosong yang kritis dan menanam hutan alam yang pernah dibuka, dibabat habis.

            Satu pertanyaan, industri kehutanan mana di Indonesia yang berhasil melaksanakan Hutan Tanaman Industri (HTI). Adakah? Bila tidak (belum) ada maka itu tugas pemerintah atau Kemenhut untuk memberhasilkannya dengan jalan melakukan moratorium penebangan hutan alam. Gampangkan! Kalau pemerintah mau.

            Hal ini yang paling gampang kalau pemerintah mau yakni satu rumah satu pohon. Kini di kota Medan hampir semua sudut ada pembangunan perumahan. Sebaiknya Pemerintah Kota (Pemko) Medan membuat kebijakan yang mengharuskan pihak developer setiap membangun satu unit rumah memiliki satu pohon di depan rumah itu, jangan pohon Palem apa lagi pohon tomat atau pohon cabe tetapi pohon yang memiliki daun lebat, mampu memproduksi oksigen (udara) seperti mohon Mangga, Kueni, Manggis dan sejenisnya. Manfaat ganda diperoleh sebab pemilik rumah dapat menikmati buah-buahan gratis dan udara yang sejuk.

            Buat perumahan baru wajib sebab umumnya pertapakan perumahan baru dari lahan tertutup dan dibuka maka wajib menanam satu pohon untuk satu unit rumah yang dibangun.

            Lantas untuk rumah yang memiliki lahan juga diminta untuk menanam satu pohon kehidupan di depan, samping atau belakang rumahnya. Pemko Medan harus membantu dengan memberikan bibit tanaman kehidupan kepada rumah warga yang masih memiliki lahan untuk ditanam pohon kehidupan.

            Di samping itu Pemko Medan juga harus memberikan apresiasi, penghargaan kepada rumah warga/penduduk yang ada beberapa pohon di depan, samping atau belakang rumahnya. Memberikan penghargaan seperti pemotongan biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) rumah tersebut.

            Hal yang langsung bisa dilakukan Pemko Medan yakni menginventasi semua sisi jalan-jalan di kota Medan. Secara kasat mata saja masih banyak sisi tepi jalan di kota Medan yang bisa ditanam pohon, tetapi Pemko Medan belum berbuat untuk itu. Bila ini dilakukan maka kota Medan akan sejuk, tidak panas seperti sekarang ini. Mungkinkah satu pohon untuk satu rumah. Lebih memungkinkan dari pada bicara satu orang menanam satu pohon.

            (Penulis adalah sarjana pertanian, aktivis lingkungan di Sumatera Utara dan kini menetap di kota Medan | Ir. Fadmin Prihatin Malau).